Tepat 1 hari sebelum perayaan hari pahlawan, kami lakukan renovasi kantor redaksi. Sebenarnya sudah lama ada keinginan untuk merenovasi ruangan 2×3 meteran itu, namun terus tertunda-tunda. Yang lagi mikirin kuliah dululah, ngurus ini dan itu yang ga jelas. Sampai ada pikiran nunggu temen-temen gerak, biar bisa bersama-sama bongkar ruangan itu. Namun hanya menunggu mereka, akan saling tunggu-menunggu. Akhirnya aku mulai dulu saja.
Hal pertama yang aku kerjakan adalah menata lemari besar yang menghadap keselatan di pojok barat sebelah utara. aku mulai menurunkan barang-barang tak-terpakai seperti CPU, monitor, adapter dan ada satu barang yang ganjil; bagian motor yang dinalar “kog bisa ya nyasar diatas lemari itu”.
Setelah semua barang kami turunkan;aku suruh Hakim anak UKM Kanda untuk berada di atas dan aku berada di bawahnya untuk menerima barang supaya tidak jatuh, aku keluarkan isi perut lemari seperti buku, majalah dan dokumen penting organisasi. Kemudian kami pindah posisi lemari yang awalnya menghadap ke selatan jadi menghadap ke timur. memindahkannya pun aku tidak sendiri. aku minta bantuan Baul -Anak Kanda juga. kami sedikit dorong ke timur agar mudah dipindahkan. dan terimakasih juga pada Hakim yang ikut membantu. walau hanya memegang lemari tanpa meminjamkan tenaganya untuk mendorong.
Semua barang sudah dikeluarkan, lemaripun sudah kami pindah saatnya pengamatan untuk mencari bentuk yang sesuai. Ya, barang-barang tadi mau ditaruh dimana? ini menjadi pertanyaan ketika melihat barang seperti CPU dan monitor berserakan. Muncullah ide. Bukankah di belakang lemri ada spce kosong ? tepat sekali untuk menaruh barang-barang. Aku taruh disana saja agar tidak mengganggu pemandangan.
Walau barang yang berserakan sudah pindah ke tempat tersembunyi, bagaimana penataan supaya lebih rapi. Aha, lemari kecil yang berada di pojok timur dipindah saja untuk menutupi gudang kecil tempat barang itu berada.
Sudah rapi ? belum. karena masih banyak buku, majalah dan kertas lain yang numpuk tidak karuan. Ditambah lagi buku dan majalah itu belum terpilah antara mana yang penting buat inventaris dan mana sampah yang patut diloakkan.
Untuk men-sortir antara buku dan majalah yang banyak itu, tidak mungkin aku sendiri. Maka aku langsung menghubungi teman-teman Kru LPM Dedikasi. Hampir semua angkatan kecuali anggota magang aku kirimi pesan teks. Tapi apa yang terjadi membuatku sedikit kesal dengan tanggapan mereka. Kebanyakan dari mereka tidak bisa.
Mereka yang tidak ikut merombak kantor redaksi memberi alasan; Lagi ikut seminarlah, masih dirumah dan ada yang baru pulang untuk sekedar mengistirahatkan badan. Aku pikir hari sabtu adalah waktu tepat karena kuliah pada libur. Akan tetapi diluar perkiraanku hari sabtu hari yang tepat digunakan mengadakan acara dan hari mengistirahatkan otak setelah hari sebelumnya diputar untuk mengerjakan tugas. Aku hanya memaklumi karna tidak mungkin aku memaksa mereka. karna itu hanya memperburuk atau membuatku terlihat otoriter.
Aku tetap percaya pada mereka. Ada yang akan datang tapi tidak pada waktu itu. Mereka bisanya sore. Aku tunggu mereka hingga datang. Satu teman dari prodi Psikologi; Makruf Red.pel Buletin Sorot dia datang awal. dengan kondisi kantor berantakan dan hanya ada dua orang, maka aku putuskan bukan mengajak dia untuk bersih-bersih. Aku ajak dia ke warung karena hari sebelumnya aku janjian dengan dia untuk membicarakan Buletin Sorot. Sekalian isi tenggorokanku yang sejak tadi haus karena terlalu keras memindah barang-barang disiang hari.
Pembicaraan buletin Sorot selesai, aku lanjutkan kembali ke kantor redaksi untuk benah-benah. Makruf yang rencananya aku ajak menemani aku tidak bisa, dia mau pulang. sebelum dia pulang dalam pembicaraan tadi, aku sempat pesan untuk datang nanti sore. Aku minta tolong juga pada dia juga untuk mencarikan toko yang menjual gabus. Gabus itu nantinya akan aku jadikan Mading di kantor.
Saat kembali ke LPM ditengah jalan ketemu Reneysa dan Nuzul; kru Dedikasi yang tadi tidak bisa datang ke kantor karena akan masuk kuliah. Sedikit cipika-cipiki dengan mereka untuk melepas kesal. Apalagi mereka cantik dan enak juga diajak bicara. tidak terasa lama juga bincang-bincang dengan mereka hingga tidak sadar mereka sudah waktunya masuk kuliah. Aku harus menghentikan perbincangan ini, membiarkan mereka kuliah dan aku kembali pada tugas awal; bongkar LPM.
Sekembali ke LPM aku lihat Slamet dan Hakim sedang Asyik bermain game. Mau tidak mau aku ikut main. Karena nge-game juga hobi sekaligus penghiburku ketika pusing memikirkan Organisasi. 1 dua kali main mungkin cukup, tapi eh tambah lagi. Apalagi Fathikin datang master of PES6. Selama kita main PES6 dia selalu memenangi game sepak bola tersebut.
Bermain game memang bisa lupa waktu. Hinjgga sore menjelang kami masih bermain. Makruf datang pun aku sampai tidak tahu. Aku asyik saja bermain sampai permainan selesai. Setelah bermain bersama Hakim kalah telak dengan skor 4-2 antara Barca vs Roma, barulah aku tanggapi Makruf. Pesanku tadi siang tentang Toko gabus dia sudah tahu tempatnya.
Kami sore itu langsung menuju toko yang menjual Gabus. Toko pertama yang kami kunjungi adalah Togamas; toko buku sekaligus peralatan sekolah seperti alat tulis dll. Di Togamas hasilnya nihil karena di toko tersebut hanya menjual Sterofom dengan ukuran kurang lebih 1 meter. petualangan kami lanjutkan ke toko Gramedia, sama seperti Togamas; toko buku plus alat tulis, bedanya di Gramedia lebih lengkap. Disana ada peralatan elektronik di lantai 1, buku dan alat sekolah di lantai 2, untuk lantai 3 aku belum tahu karena belum pernah masuk kesana. Dengan membayar parkir Rp 2000 kami tidak mendapat apa yang kami cari. Ada satu lagi tempat treasure yang kami cari, tempatnya agak jauhan dari tempat kami namun kami tetap tancap Gas menuju toko pilihan terakhir. Akhirnya apa yang kami cari –Sterofom setelah mengitari kurang lebih 20% kota Kediri kami temukan. Kami temukan sterofom dengan ukuran sebesar papan tulis di toko Perdana alamatnya jalan Sekar Taji.
Dengan sterofom sebesar papan tulis membuat kami kesulitan membawanya ke kantor redaksi. Tangan yang terus memegang pojokan sterofom sudah merasa pegal-pegal. perjalanan yang ditempuh pun cukup panjang, dari Sekartaji sampai STAIN Kediri. Walau terasa pegal, benda yang kami cari sudah kami dapat. Demi renovasi kantor redaksi pegal sedikit seperti itu tidak ada aji-nya.
Kami sampai di kantor redaksi tepat azan Magrib berkumandang. Sampai disana kami langsung memasang sterofom jadi Mading kemudian baru ibadah, setelah ibadah Makruf minta pamit pulang karena sudah sore dan di rumah dia ada kegiatan lain.
Bongkar pasang kantor redaksi belum selesai sampai disini. Mading sudah terpasang namun buku dkk belum dipilah. Kebetulan Izul datang dan aku panggil satu anggota perempuan, maksudnya biar Izul semangat ketika kerja pilah-pilih majalah.
Arinda; anggota perempuan yang aku maksud datang bersama temannya. Cepat-cepat aja langsung memilah majalah dkk. hingga waktu menunjukkan 20:30. Karena Arinda anak pondok, aku sudahi kerja rodi memilah majalah dkk. Tapi untuk menghargai dedikasi mereka, aku ajak mereka ke warung walau sekedar menyeruput teh atau kopi. Namun Arinda menolak karena tidak nyaman kalau di warung. Dalam hati aku bersyukur, karena uang yang aku pegang kempas-kempis. Dasar ! akhirnya hanya aku dan Izul minum kopi di warung maduro. Setelah itu kami kembali ke LPM bukan untuk melanjutkan renovasi namun nge-game. Renovasi kantor redaksi kami lanjutkan besok. Ternyata hanya untuk membongkar pasang kantor redaksi yang berukuran 2×3 meter tidak cukup 1 hari.